LCA dan Jejak Karbon Jadi Instrumen Strategis Menuju Net Zero Emission 2060
- 8 Jun
- 1 menit membaca

Metode Life Cycle Assessment (LCA) dan perhitungan jejak karbon dinilai sebagai instrumen penting dalam pengambilan keputusan berbasis sains untuk mendukung target Net Zero Emission 2060. Dalam workshop di KST Sarwono Prawiroharjo BRIN, peneliti Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB) Hismiaty Bahua menegaskan perlunya pergeseran dari kebijakan berbasis intuisi menuju pendekatan berbasis data. LCA dan carbon footprint memungkinkan identifikasi peluang efisiensi serta dekarbonisasi industri secara terukur, sekaligus membantu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan komitmen penurunan emisi. Ia juga menjelaskan perbedaan antara Corporate Carbon Footprint (CCF) yang menghitung total emisi perusahaan dan Product Carbon Footprint (PCF) yang menilai emisi sepanjang siklus hidup produk.
Hismiaty mengingatkan risiko carbon tunnel vision apabila industri hanya berfokus pada satu indikator karbon tanpa melihat dampak lingkungan lainnya. Oleh karena itu, LCA diperlukan untuk mencegah burden shifting serta memastikan evaluasi dampak dilakukan secara komprehensif sesuai standar ISO, melalui tahapan penentuan tujuan dan lingkup, inventori, penilaian dampak, dan interpretasi. Tantangan utama terletak pada pengumpulan data, terutama data primer dalam rantai pasok, sehingga industri disarankan memprioritaskan data yang berada dalam kendali langsung perusahaan. Dengan dukungan perangkat lunak LCA dan data yang akurat, hasil analisis dapat menjadi dasar perencanaan strategis dan komunikasi pasar yang kredibel dalam mendukung agenda dekarbonisasi nasional.
Sumber:




