Industri CCS Indonesia Makin Prospektif, Regulasi Perlu Diperkuat
- STIC CEGIR
- 25 Jun
- 1 menit membaca

Industri penyimpanan karbon (Carbon Capture Storage/CCS) di Indonesia menunjukkan prospek yang semakin menjanjikan seiring dengan transisi energi yang didorong pemerintah. Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Kementerian ESDM, Ariana Soemanto, menyatakan bahwa teknologi CCS sangat penting untuk diterapkan dalam proyek-proyek migas, mengingat kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Saat ini, beberapa proyek CCS sedang berlangsung seperti di lapangan Sukowati, cekungan Sunda Asri (Pertamina dan ExxonMobil), cekungan Masela (Inpex), blok Sakakemang (Repsol), serta Blok Tangguh oleh BP dengan tambahan investasi sebesar US$7 miliar. Bahkan, sudah ada tiga proyek CCS mandiri yang sedang diajukan ke pemerintah menunggu arahan lebih lanjut.
Sementara itu, Kepala Pengembangan Bisnis CCUS BP, Daniel Fletcher, menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan bisnis CCS, baik dari sisi geologi maupun dukungan regulasi. Ia mengapresiasi adanya Peraturan Menteri ESDM No. 2 Tahun 2023 yang mengatur seluruh aktivitas CCS secara aman dan permanen. Namun, ia juga menekankan perlunya regulasi tambahan, khususnya untuk mendukung implementasi penyimpanan karbon lintas negara. Menurutnya, dengan kepastian regulasi dan insentif pemerintah, ekosistem bisnis CCS akan tumbuh lebih cepat dan menarik dukungan dari lembaga keuangan, sekaligus mendukung upaya dekarbonisasi Indonesia.
Referensi: